Ketua PWNU Sumut Pertama: Syekh Bahruddin Thalib Lubis

Tidak ada yang menyangka atau sedikit yang mengetahui bahwa ternyata ketua NU pertama bernama Syaikh KH. Bahruddin Thalib Lubis, seorang ulama kharismatik yang begitu dihormati dan disegani di masanya, beliau dipanggil Tuan Guru Medan dalam kesehariannya. Nama Bahruddin Thalib Lubis hampir saja tenggelam dalam sejarah perjalanan NU di Sumatera Utara dan bahkan nasional. Sebab itu sangat sulit melacak sejarah hidup sang tokoh pendiri NU yang pertama ini. Meskipun begitu penulis berusaha melacak langsung tempat sejarah kehidupan beliau di sekitar Kabupaten Tapanuli Tengah dan Sibolga kepada keluarga, sahabat dan murid-muridnya. Di samping itu beberapa sumber referensi buku-buku yang memuat sejarah singkat kehidupannya sebagai seorang ulama di Sumatera Utara.

Beliau dilahirkan di kota Stabat, Langkat, tahun 1905 dari keluarga yang taat beragama, ayahnya bernama Lebai Thalib bin H. Ibrahim Lubis dan ibunya Markoyom Nasution. Ayahnya berasal dari kampung Pastap, Kotanopan, Tapanuli Selatan (sekarang Madina). Sebagai seorang yang berasal dari Tapanuli Selatan dan pindah ke negeri Melayu, Lebai Thalib juga dikenal sebagai seorang yang memiliki ilmu agama mendalam, sehingga oleh masyarakat Melayu setempat dia dipanggil Lebai Thalib.

Lebai Thalib sangat mengagumi ulama seperti Syaikh M. Yunus Guru Maktab Islamiyah Medan dan Syaikh Ismail Guru Madrasah Tsamaratul Islamiyah di Tebing Tinggi. Kekagumannya kepada kedua ulama ini menimbulkan hasrat yang kuat untuk memiliki dua orang anak yang kelak menjadi ulama. Karena itu di dalam keluarga beliau mendidik anak-anaknya dengan penuh disiplin menjalankan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Lebai Thalib mempunyai lima orang anak, dua perempuan dan tiga laki-laki, Baharuddin adalah anak yang kedua. Cita-cita Lebai Thalib memiliki dua orang anak yang dikenal sebagai ulama dikabulkan oleh Allah dengan dua orang anaknya bernama Bahruddin Thalib Lubis dan M. Arsyad Thalib Lubis yang dikenal sebagai dua orang ulama terkemuka di Sumatera Utara di mana kemudian Bahruddin menjadi tokoh NU dan Arsyad adalah tokoh Al-Washliyah di Sumatera Utara.

Mengawali pendidikannya, Bahruddin Thalib Lubis menjalani sekolah rendah di Stabat. Dia belajar membaca Al-Quran kepada ayahnya dan kemudian menggelutikitab-kitab Melayu di Babussalam, Langkat, Stabat kepada Syaikh Zainuddin Bilah, seorang ulama keluaran Mekkah. Selanjutnya atas anjuran gurunya Syaikh Zainuddin Bilah beliau melanjutkan pendidikan agama kepadaSyaikh Abdul Wahhab di Sungai Lumut, Labuhan Bilik. Syaikh Abdul Wahhab adalah seorang ulama yang pernah menggoncangkan pemerintahan Belanda di Asahan tahun 1924 dengan fatwa-fatwanya menentang pembayaran pelanggaran rodi (kerja paksa) dan permintaan izin mengajarkan agama di masyarakat sehingga Syaikh Abdul Wahhab dimasukkan ke dalam penjara.

Setalah belajar dengan Syaikh Abdul Wahhab dia kembali ke Stabat, namun dianjurkan gurunya Syaikh Zainuddin Bilah agar belajar di Madrasah Al-Ulumil Al-Arabiyah di Tanjung Balai kepada Ustadz Abdul Hamid Mahmud pada tahun 1923.Madrasah ini dikenal dengan sistem pengajarannya yang telah teratur baik. Di sana dia belajar bersama saudaranya M. Arsyad Thalib Lubis dan kawan-kawannya seperguruan Syaikh Zainuddin Bilah. Dua tahun di sini, dia dan kawan-kawannnya kemudian melanjutkan belajar agama kepadaSyaikh Hasan Maksum diMedan tahun 1925. Setelah itu pada tahun 1927 beliau berangkat ke Kedah (Malaysia) untuk belajar dan sambil mengajar di beberapa madrasah dan berdakwah di daerah tersebut. Setelah mempunyai bekal yang cukup pada tahun 1930 beliau menunaikan haji ke Mekkah sambil belajar pada ulama terkemuka yang mengajar di Masjidil Haram sepertiSyaikh Abdul Kadir Al-Mandili, Syaikh Ali Al-Maliki dan lain-lain, beliau belajar di sana selama lima tahun.

Pada tahun 1935 Syaikh Bahruddin Thalib Lubis kembali ke Malaysiauntuk mengabdikan ilmunya. Pada usia 30 tahun dia menikah dengan seorang gadis Malaysia.dan memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan (sepasang), yang laki-laki bernama Habib Lubis. Namun karena kecintaan dan kerinduannya kepada kampung halamannya ia mengajak istrinya untuk berangkat ke Indonesia, tetapi istrinya tidak bersedia dan diapun kembali ke Indonesia seorang diri meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil muda.

Setelah beberapa bulan beristirahat sambil mengajar di Stabat, masyarakat Sibolga meminta dan mengharapkan agar Syaikh Bahruddin Thalib Lubis tinggal dan mengajar di sana. Tidak hanya atas desakan masyarakat, tetapi gurunya Syaikh Hasan Maksum juga mengharapkan dia untuk berangkat mengajar ke Sibolga.

Sebenarnya kesediaannya pindah dan menetap di Sibolga disebabkan hasratnya yang begitu mendalam untuk uzlah (mengasingkan diri) dari hiruk pikuk gejolak sosial dan politik akibat perang dunia ke-II di mana Belanda dan sekutunya dengan Jepang sedang berkomprontasi di kota-kota besar. Akhirnya ia berangkat ke Sibolga dengan membuka Madrasah Al-Falah di sana. Beberapa tahun tinggal di Sibolga dia kembali mengajak istrinya untuk pindah ke Sibolga namun tidak kesediaan dari istrinya tersebut. Selanjutnya ia menikah di Binjai dengan seorang gadis Tapanuli Selatan bernama Cahaya Khairani Lubis dari Samora, Sidimpuan. Dari perkawinannya ini ia memiliki delapan orang anak, yaitu Bahrul Kamal Lubis (Sibolga), Masruroh (Sidimpuan), Sabri (Sibolga), Ahmad Hariri (Jakarta), Bahjatunnur (Tanjung Pinang), M. Bachit, Rosidah, dan Busrah (Jakarta), dan semua anaknya ini lahir di jalan Srikandi, Sibolga.

Bagi masyarakat Sibolga Syaikh Bahruddin Thalib Lubis dipanggil dengan sebutan Tuan Guru Medan. Ketika itu tidak ada satupun yang tidak mengenal Tuan Guru Medan. Hal ini ditandai dengan informasi-informasi yang disampaikan para orang-orang tua yang sudah menetap lama di Sibolga. Pernah suatu ketika terjadi debat Tuan Guru Medan dengan seorang Pendeta mengenai kebenaran Agama Islam dan Kristen diawali dengan perjanjian siapa yang kalah harus mengikut agama yang menang. Dalam perdebatan itu dimenangkan Tuan Guru Medan sehingga Sang Pendeta dan keluarganya masuk ke dalam Agama Islam.

Lagi-lagi kondisi sosial kota Sibolga tidak membuat betah Syaikh Bahruddin Thalib Lubis untuk menetap lama di sana. Kota Sibolga pada saat itu juga dikenal dengan situasi sosial yang begitu dinamis sehingga menghadapkan beliau pada permasalahan-permasalahan yang terjadi pada masyarakatnya. Menurut keterangan murid-muridnya hal itu menyebabkan Syaikh Bahruddin Thalib Lubis disibukkan menjawab semua persoalan-persoalan sosial dan keagamaan masyarakat. Meskipun beliau sanggup mengatasinya namun waktunya untuk mendidik generasi-generasi penerus Islam menjadi terbatas. Pada masa itu tidak ada satupun yang sanggup berhadapan debat dengan Syaikh Bahruddin Thalib Lubis. Dengan kedalaman ilmu agamanya ia menjadi ulama kharismatik di Tapanuli. Penguasaannya dalam bidang nahwu sharaf diakui semua guru-guru agama yang ada pada masa itu termasuk oleh guru-guru Madrasah Musthafawiyah Purba Baru. Setiap mengajar dan berdakwah Syaikh Bahruddin Thalib Lubis menggunakan ilmu nahwu sharaf yang digunakannya sebagai alat menafsirkan ayat-ayat Al-Quran maupun mensyarah matan-matan hadis.

Keterlibatannya yang begitu sibuk dengan urusan dunyawiyah di Sibolga menyebabkan ia kembali uzlah ke daerah pedalaman di Sihobuk melewati kampung Hutaraja (lebih dekat ke Batang Toru). Ia pindah ke Sihobuk tidak membawa keluarga karena jaraknya yang tidak terlalu jauh di mana setiap bulan ia dengan keluarganya saling bergantian mengunjungi. Di sini dia tidak lama mengajar disebabkan pemerintah setempat tidak begitu menyukainya karena ajaran agama yang disampaikannya dikenal sangat ketat. Oleh masyarakat Bandar Hapinis yang tidak jauh dari Sihobuk mengajaknya untuk pindah ke sana mendirikan Madrasah dengan diberikannya sebidang tanah yang cukup luas.

Di Bandar Hapinis ini ia dan masyarakat setempat membangun Madrasah Al-Bahriyah (konon diambil dari nama neneknya). Murid-muridnya berasal dari kampung Bandar Hapinis, Hutaraja, Sibabangun, Anggoli, Batang Toru, Sibolga hingga dari Mandailing. Tidak kurang dari 500 orang murid yang belajar di sana dan menurut penuturan masyarakat Hapinis ada sekitar 20 pondok sebagai tempat tinggal murid-murid yang berasal dari luar Hapinis.

Di sini Syaikh Bahruddin Thalib Lubis melepaskan kerinduan dan keinginannya selama ini untuk mendirikan lembaga pengkaderan generasi Islam terpenuhi. Dengan penuh keseriusan beliau menerapkan disiplin kepada seluruh muridnya. Dia membuka tingkatan kelas hanya sampai kelas IV. Masyarakat dan murid-muridnya sangat mengingat pesan Syaikh Bahruddin Thalib Lubis bahwa bila belajar dengan tekun di Madrasah Al-Bahriyah sampai kelas III saja akan sama ilmunya dengan kelas VI di Madrasah Musthafawiyah Purba Baru.

Pada pagi hingga siang hari murid-murid Madrasah Al-Bahriyah belajar kepada Syaikh Bahruddin Thalib Lubis, kemudian pada pukul 14.00-17.00 murid-murid mengulangi pelajaran yang sudah diajarkan dipimpin murid-murid yang dianggap sudah memahaminya terlebih dahulu, diantara murid yang dipercaya mendampingi murid lainnya yaitu Hasan Maksum Siregar, Tuan Salamat (murid tertua dari Tapsel), Tuan Abdul Gani (Batang Toru), Mustafa (Hapinis) dan Ustadz Taat Batubara (Sibabangun). Pada malam hari aktivitas pengajar dilakukan Syaikh Bahruddin Thalib Lubis di rumahnya yang letaknya di samping Madrasah. Pada malam hari ini khusus murid-murid yang sudah dewasa sehingga diajarkan mengenai fiqih munakahat dan muamalat. Ujian dilakukan sekali setahun dengan metode sidang Munaqasah, yaitu setiap murid diuji di halaman Madrasah disaksikan murid-murid yang lain, adapun penguji berasal dari guru-guru Musthafawiyah dan ulama-ulama yang ada pada masa itu, seperti Ali Hasan Ahmad Ad-Dari, Guru Masyur (P. Sori), Hasan Maksum dan lain-lain. Dalam waktu 2 tahun Madrasah Al-Bahriyah terkenal di mana-mana.

Syaikh Bahruddin Thalib Lubis juga dikenal sebagai ahli hukum dan ahli debat. Gayanya berceramah dengan suara yang kuat dan berapi-api. Perawakannya yang tinggi, putih, tampan, dan pakaian yang rapi (pakai jas warna gelap di dalamnya baju kemeja putih dan kain sarung) dengan sorban (tidak mau memakai lobe) membuat murid-muridnya sangat segan dan takut menatap matanya. Menurut banyak muridnya, untuk melihat punggungnya saja tidak ada yang berani. Suaranya sangat merdu ketika mengumandangkan adzan. Dia juga sangat keras dan tegas memberi hukuman kepada murid-murid yang melakukan kesalahan. Pernah suatu ketika ia melemparkan rotan kepada muridnya sehingga kepala muridnya berdarah, namun hal itu dipahami sebagai bentuk begitu pentingnya mengikuti agama secara benar. Di belakang hari dipahami bahwa sikapnya itu untuk memacu waktu yang relatif singkat dancepat dalam menguasai ilmu agama. Untuk menyatakan sesuatu yang salah, misalnya salah pengucapan tajwid, dia akan berkata: “haram, haram….”, sambil meludah ke kanan dan ke kiri.

Bila ia masuk ke dalam kelas murid-muridnya yang sebelumnya riuh langsung geger dan hening seketika. Setiap mengajar jika membuka halaman kitab akan langsung tepat pada halaman yang dituju. Panggilannya kepada murid-muridnya dengan sebutan “hai jabayur”. kemudianmenurut keluarganya di rumahnya, Sibolga, menyimpan satu ruangan yang penuh dengan kitab. Di kelas Syaikh Bahruddin Thalib Lubis menggunakan papan tulis dan tulisannya sangat indah. Di dekat madrasah didirikan masjid bernama Al-Falah.

Adapun uang SPP beliau tidak menetapkan jumlahnya namun biasanya para orang tua murid mengirimkan padi pada waktu panen. Masyarakat Bandar Hapinis menyatakan bahawa selama Syaikh Bahruddin Thalib Lubis tinggal dan mengajar di sini mereka mendapatkan berkah dengan berlipat-lipatnya hasil panen masyarakat sehingga banyak yang berzakat. Meskipun Syaikh Bahruddin Thalib Lubis tidak memiliki gaji yang tetap namun kelihatannya tidak kurang satu apapun kebutuhan beliau. Madrasah Al-Bahriyah sendiri memiliki tiga ruangan kelas, dua asrama santri, satu rumah guru, dan satu buah masjid yang terletak di dekat sungai (Aek Sikkip) di belakang kompleksnya. Meskipun tingkatan pendidikan madrasah dengan metode naik kelas setiap tahun tetapi tidak ada istilah kelas I, kelas II, kelas III dan seterusnya. Bahasa mengajar sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab.

Madrasah yang didirikannya ini tidak berumur panjang, hanya berjalan lima tahun, tiga tahun semasa hidup Syaikh Bahruddin Thalib Lubis dan dua tahun diteruskan murid-muridnya. Saat ini Madrasah Al-Bahriyah hanya tinggal kenangan di mana berkas pertapakan madrasahnya pun sudah berubah menjadi kebun sawit. Masyarakat menyayangkan singkatnya umur madrasah ini karena wafatnya Syaikh Bahruddin Thalib Lubis dan tidak adanya lagi pelanjut dari keluarganya. Seandainya madrasah ini sempat menamatkan muridnya (kira-kira setingkat kelas IV) niscaya dapat mewarnai dunia pendidikan dan dakwah Islam di Sumatera Utara.

Menurut pandangan masyarakat beliau adalah sosok yang berpengaruh dan menjadi panutan sehingga pemerintah ketika itu tidak berani membatasi langkahnya dalam mengajarkan agama. Pernah dia ditawarkan ke Jakarta untuk menjadi pejabat tapi dia tidak mau. Para tokoh agama semasanya sangat menghormatinya, seperti Tuan Musthafa Husein, Ali Hasan Ahmad Ad-Dari, H. Lukman Kampung Napa, Syaikh Ahmad Dawud (Nabundong), Syaikh Syihabuddin (Aek Libung), Tuan Basilam (Goti), Syaikh Muktar Muda Nasution, Tuan Syaikh Muara Mais dan lain-lain. Menurut muridnya, biasanya dengan para ulama itu Syaikh Bahruddin Thalib Lubis dapat berhubungan secara kasyaf, meskipun dia tidak kenal sebagai pelaku tarekat.

Meskipun tidak pengamal tarekat menurut keluarga dan muridnya Syaikh Bahruddin Thalib Lubis memiliki banyak karomah. Pernah ketika menyuruh murid-muridnya berangkat mengaji Maulid Nabi Saw. ke Hutaraja dengan menggunakan sampan yang ketika itu sungainya (S. Raniate) dangkal, murid-muridnya ragu untuk berangkat karena sampan tidak bisa digunakan, namun tidak berapa lama tiba-tiba air sungai naik dan bisa dilewati dengan sampan tersebut. Sering juga ketika beliau berangkan hendak shalat ke masjid baik di Hapinis dan Sibolga, menurut murid-muridnya meskipun turun hujan beliau tidak basah. Pada masa perang dengan Sekutu (Agresi Belanda ke-II) di rumahnya, Sibolga, ketika sedang shalat didatangi Belanda tetapi beliau tidak kelihatan sosoknya dan banyak lagi yang lainnya.

Tahun 1950 ketika NU dibentuk di Sidimpuan beliau terpilih menjadi Ketua NU yang pertama di antara beratus ulama yang hadir dari seluruh daerah Tapanuli. Pengabdiannya di NU terutama di daerah Tapanuli dan Sibolga dibuktikan dengan arahannya kepada generasi muda Islam untuk ikut memperjuangkan ajaran Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Di madrasahnya pada malam minggu kelompok-kelompok Fatayat melakukan kegiatan dan latihan seni Islam (nasyid, kasidah). Anaknya yang perempuan bernama Masruroh menjadi pelatih tarik suara islami tersebut.

Akhirnya pada Ahad 8 Agustus 1965 M (10 Rabiul Akhir 1385 H) setelah shalat Ashar di saat murid-muridnya bergotong-royong di kebun ubi belakang rumahnya, dia mendengar suara patahan batang-batang ubinya, Syaikh Bahruddin Thalib Lubis marah dan mengejar murid-muridnya tersebut dengan emosi sehingga darah tingginya naik, tiba-tiba dadanya terasa sesak kemudian dibawa murid-muridnya ke dalam masjid dan tidak berapa lama ulama yang dicintai ummatnya ini menghembuskan nafas terakhirnya disaksikan ratusan murid-murid Madrasah Al-Bahriyah di Masjid Al-Falah.

Kedukaan yang begitu mendalam tidak hanya dirasakan murid-murid Madrasah Al-Bahriyah tetapi juga penduduk kampung Bandar Hapinis. Ribuan masyarakat mengantarkan jenazahnya dengan menggotongnya lebih kurang 7 km ke kota Batang Toru dan selanjutnya dibawa dengan bus ke kota Sibolga. Esok hari tanggal 9 Agustus 1965 lautan ribuan ummat Islam menshalatkan jenazahnya di Masjid Raya Agung Sibolga di tengah mendung dan rintik-rintik hujan menyelimuti kesedihan ummat Islam atas wafatnya sosok ulama yang tegas, disiplin, istiqomah dan menjadi panutan. Jenazahnya kemudian diantarkan dengan digotong oleh umat Islam yang menyayanginya lebih kurang 10 km dari Sibolga arah ke Barus, TPU muslim di Desa Mela

Menurut informasi masyarakat, kota Sibolga mengalami mendung selama seminggu setelah kepergiannya. Demikianlah sekelumit riwayat hidup ulama dan tokoh NU ini untuk menjadi ibrah bagi nahdliyyin-nahdliyyat Sumatera Utara khususnya dan Nusantara umumnya.

 

(Pencarian data-data sejarah hidupSyaikh Bahruddin Thalib Lubisdilakukan di Kabupaten Tapanuli Tengah dan kota Sibolga sebagai tempat pengabdian beliau kepada agama dalam bidang dakwah dan pendidikan hingga akhir hayatnya. Di daerah inilah beliau berjuang mengukir tinta emas sejarah NU dan dunia dakwah serta pendidikan yang digelutinya, terima kasih kepada Bapak Ismail Siregar, Bapak H. Ramli Nasution, Bapak Ali Musa Sihombing, dan teristimewa kepada Bapak Kifli Batubara/anak ustadz Taat Batubara, murid Syaikh Bahruddin Thalib Lubis).

 

 

Sibolga, 13 Desember 2013

Penulis: H. Abrar M. Dawud Faza, MA (Katib Syuriah PWNU Sumut)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *