Ketika Sutradara Eropa Takjub dengan Islam Nusantara

Bandarlampung, NU Online (Jumat, 03 Agustus 2018)

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa toleransi dalam beragama di Nusantara ini sangat dikagumi oleh bangsa-bangsa luar negeri. Kerukunan dan kedamaian di tengah kebinekaan agama, suku dan budaya dapat dengan baik dijalin di tengah-tengah masyarakat.

Fakta ini menarik seorang sutradara dari Eropa yang berkunjung ke Indonesia dan akan menggagas sebuah film yang bertemakan Islam Nusantara.

Hal ini disampaikan Kiai Ma’ruf saat hadir pada acara Tabligh Akbar yang diselenggarakan dalam rangkaian Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Sumatera Ke-dua yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia di Masjid Al Furqon, Bandarlampung, Kamis (2/8) malam.

“Ada seorang sutradara film yang berkunjung ke Indonesia. Sutradara tersebut tertarik dengan toleransi umat Islam di Indonesia,” kata Kiai Ma’ruf.

Sutradara itu pun langsung melihat sendiri kerukunan yang ada dengan mendatangi suku Badui di Banten yang hidup di tengah-tengah umat Islam. Suku Badui yang dikenal memuja agama leluhur tetap bisa hidup berdampingan dengan umat Islam di Banten.

“Ternyata suku Badui aman-aman saja. Tidak ada gangguan, tidurnya nyenyak. Nah, ini Islam Nusantara,” katanya.

Setelah itu sang sutradara melanjutkan kunjungan ke Candi Borobudur di Magelang yang merupakan tempat ibadah umat Budha. Disana pun ia takjub karena Borobudur yang berada di tengah-tengah lingkungan umat Islam tetap berdiri tegak dan digunakan untuk peribadahan umat Budha.

Begitu juga saat sutradara ini mengunjungi daerah wisata Gunung Bromo Jawa Timur. Ia diperlihatkan kembali bagaimana toleransi umat Islam dengan umat Hindu sangat terjaga di daerah itu.

“Saya akan membuat film tentang Islam Nusantara dan akan memutarnya di seluruh Eropa dan Amerika,” kata Kiai Ma’ruf mengisahkan takjubnya sutradara tersebut terhadap tatanan Islam dan agama-agama yang ada di Nusantara ini.

Kiai Ma’ruf menegaskan bahwa kedamaian yang dapat dirasakan ini adalah buah dari tatanan sosial yang dibangun atas sikap tawasuth (moderat) dan tasammuh (toleran). (Muhammad Faizin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *