Penjelasan Ketua NU Jatim Soal Islam Nusantara dan Kebangsaan

Malang, NU Online (Senin, 06 Agustus 2018)

Islam Nusantara dalam Bahasa Arab adalah “Tarkib Idhofah bi Ma’na Fi” yaitu Jenis Idofah (gabungan dua Isim) yang di dalamnya terdapat makna “di”. Contoh lain seperti Islam Yaman yang berarti Islam yang ada di Yaman, Islam Mesir yang bermakna Islam yang ada di Mesir. Sama seperti Islam Nusantara yaitu Islam yang ada di Nusantara Indonesia yang dibawa oleh para wali.

Penjelasan ini disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Sabilur Rosyad Gasek Malang KH Marzuki Mustamar saat memberikan mauidzah hasanah di depan jamaah Masjid Abdillah Raya Sulfat 66, Malang, Jumat (3/8) lalu.

Ketua PWNU Jatim ini menambahkan bahwa orang yang masuk Islam sejak zaman Nabi Muhammad SAW tetap dibolehkan menyebut kebangsaannya. Nabi tidak melarang seseorang yang masuk Islam tetap dengan menggunakan kebangsaannya.

“Boleh dia Islam dan tetap Mesir. Boleh dia Islam dan tetap Persi. Makanya Salman masuk Islam ya tetap Salman Al Farisi. Salman yang berkebangsaan Persi. Boleh. Jadi tidak berarti setelah Islam, Indonesianya hapus, Yamannya hapus. Mesirnya hapus. Persinya hapus,” tegasnya.

Ia melanjutkan, orang Mesir masuk Islam dan tetap menjadi mesir tidak ada yang mempermasalahkan. Orang Yaman masuk Islam dan tetap menjadi Yaman serta tidak menjadi Quraish juga tidak dipermasalahkan. Orang Turki masuk Islam dan tetap menjadi Turki dengan tidak berubah menjadi Arab juga tidak dipermasalahkan.

“Lha kenapa ketika orang Indonesia masuk Islam dan tetap ingin Indonesia, kok pada ribut? Jadi harus fair (adil) dalam memberi penilaian,” ungkapnya.

Jadi Islam Nusantara dengan Islam yang lainnya lanjutnya, memiliki ajaran yang sama namun berbeda dalam mengekspresikannya sesuai dengan kemampuan dan budaya masing-masing. Seperti kesunahan dalam memberi khabar pernikahan misalnya. Orang Yaman melakukannya dengan seni tari Japin. Orang Indonesia menggunakan seni lain sesuai dengan budaya yang ada.

“Makanlah yang halal. Karena ada perintah makan yang halal, standar Saudi dan Malang sama. Di Arab makan ayam disembelih dahulu, di Malang juga disembelih juga. Di Arab menyembelih membaca Bismillah, di Malang juga membaca Bismillah. Tapi setelah disembelih menjadi daging ayam, masing-masing negara memiliki ciri khas sendiri. Di Arab, ayamnya dipanggang dikasih sambel cukup. Tapi orang Jawa dibuat kare, sate, ayam geprek sesuai dengan tradisi,” ia mencontohkan.

Contoh lain ungkapnya, seperti perintah untuk menutup aurat. Jika di Arab menggunakan jubah dan gamis dikarenakan kondisi daerahnya adalah padang pasir dan jarang hujan. Kemanapun berjalan tidak gampang kotor karena hanya pasir. Berbeda dengan Indonesia yang daerahnya banyak tanah basah dan bukan padang pasir.

“Kalau di Masjid Nabawi sering ada shadaqah makanan dengan bungkus plastik karena memang tidak ada daun pisang dan nggak ada daun jati seperti di Indonesia,” tambahnya disambut senyum para jamaah.

Di setiap negara memiliki ekspresi masing-masing tergantung budaya yang dimiliki namun tetap memiliki ajaran Islam yang sama. Inilah yang diajarkan para wali yang merupakan keturunan bangsa Arab saat menyebarkan agama Islam tanpa ada paksaan di Indonesia.

“Para wali, walaupun keturunan Arab, mereka Njawani. Mau beradaptasi dengan budaya Jawa selama tidak bertentangan dengan syara’. Yang Arab saja Njawani, yang hidungnya mbangir (mancung) saja Njawani. Eh malah yang pesek kemarab (ke Arab-araban),” pungkasnya disambut tawa kembali oleh jamaah. (Red: Muhammad Faizin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *