Sudah Jelas Definisi Islam Menurut Rasulullah

Pringsewu, NU Online (Ahad, 05 Agustus 2018)

Suatu hari saat Rasulullah SAW berkumpul dalam sebuah majelis bersama para sahabatnya, tiba-tiba muncul seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak nampak tanda-tanda bekas perjalanan jauh, dan tak ada seorang pun di antara sahabat yang mengenalnya.

Sosok misterius ini pun segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi seraya bertanya tentang apa yang dinamakan Islam.

Mendengar pertanyaan ini Rasulullah SAW pun menjawab dengan tegas bahwa Islam adalah engkau bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya.

“Tahukah siapa sosok yang telah membuat heran para sahabat dan tiba-tiba bertanya kepada Rasul tentang apa itu Islam? dia adalah Malaikat Jibril,” demikian kisah ini dijelaskan Pengasuh Pondok Pesantren Mathlaul Huda, Ambarawa, Pringsewu, Lampung Gus Mubalighin Adnan, Ahad (5/8) untuk mengingatkan dan menegaskan kembali apa itu definisi Islam menurut Rasulullah SAW.

jadi selama seseorang tetap berpedoman kepada penjelasan Nabi yang terangkum dalam Rukun Islam tersebut, maka menurut pria yang akrab disapa Gus Balighin ini, Islam yang dianutnya adalah sesuai dengan Nabi Muhammad SAW.

“Selama syahadatnya sama, shalat lima waktu, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, berhaji ke Makkah maka tetap Islam. Sementara kata ‘Islam’ bisa ditambah untuk menekankan model amaliahnya seperti Islam Nusantara, Islam Terpadu, Islam Berkemajuan, Islam Aswaja dan sejenisnya. Definisi Islam sudah jelas menurut Rasulullah, tinggal pengamalannya saja yang dilihat,” tegasnya.

Ia pun sangat prihatin terhadap orang yang gagal paham tentang Islam Nusantara karena membuat definisi sendiri tentang Islam Nusantara sekaligus menyalahkan definisi yang sudah dibuatnya sendiri. Apalagi hal itu dilakukan di atas mimbar khutbah Jumat yang seharusnya digunakan untuk menyampaikan ajakan bertakwa dan mendekatkan diri kepada Allah. Mimbar khutbah tidak boleh digunakan untuk meng kafir-kafirkan orang lain, menebar kebencian dan melakukan fitnah.

Gus Balighin pun mengingatkan bahwa yang terpenting dari Islam bukanlah definisinya namun pengamalan ibadah yang sudah diajarkan oleh Rasulullah. Ketika keislaman dan keimanan seseorang benar-benar terjaga dan dilakukan dengan baik maka akan membuahkan hasil berupa keikhsanan.

“Apa itu ihsan? Ihsan yaitu hendaklah kita beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya. Kalaupun kita tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihat kita,” pungkas Gus Balighin saat menjelaskan tentang Islam, Iman dan Ihsan pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di Gedung NU Pringsewu. (Muhammad Faizin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *