Sejarah Hidup Tuan Syekh Mukhtar Muda Nasution

(Ustadz Muda sebagai Qori pada Acara Pendirian Nahdlatul Ulama di Sidimpuan)

Nama Lengkapnya Marahadam Nasution gelar Haji Mukhtar Muda Nasution bin Haji Muhammad Ludin Nasution bin Lobe Marusin bin Ja Manorsa bin Amal bin Ja Gading. Nama terakhir ini adalah leluhurnya yang pindah ke Kecamatan Barumun yang berasal dari daerah Panyabungan Mandailing. Haji Mukhtar Muda Nasution yang akrab dipanggil Tuan Mukhtar atau Syekh Mukhtar Muda, lahir di Wek II Gelanggang, Pasar Sibuhuan, Kecamatan Barumun, Tapanuli Selatan (saat ini menjadi Kabupaten Padang Lawas, hasil pemekaran wilayah) pada hari Ahad tanggal 9 Januari 1921 bersamaan dengan tanggal 22 Ramadan 1340 Hijrah, pada jam 15.00 Wib sore hari. Wafat di Sibuhuan pada hari Sabtu, tanggal 31 Oktober 2009 M/12 Zulkaedah 1430 H, pada Jam 08.45 Wib, tutup usia 90 tahun.
Beliau berperawakan tinggi, berkulit putih, pakaian yang selalu digunakan ketika keluar rumah, memakai kain sarung, baju jas berwarna gelap kemeja putih sebelah dalam, pakai serban yang dililitkan di kepala, memakai selop kulit atau sepatu. Apabila berjalan di jalan raya dalam keadaan berjalan kaki melihat fokus ke depan, demikian juga jika berkenderaan menyetir sendiri dengan kecepatan sedang. Style pakaian yang semacam itu tidak pernah berubah meskipun beliau diundang menghadiri acara-acara resmi oleh pejabat negara sampai ke istana Presiden.
Beliau menikah dengan seorang gadis cantik dua tahun lebih muda dari beliau, bernama Maimunah Hasibuan bin Haji Abdul Malik Hasibuan, berasal dari Wek I, Pasar Sibuhuan pada tanggal 10 Zulkaedah 1360 H/29 Nopember 1941 M. Dari hasil perkawinan itu dikaruniai 7 (tujuh) orang anak yaitu 2 (dua) orang putra dan 5 (lima) orang putri. Mereka adalah :
1. Hj. Amnah Alwiyah Nasution, pensiunan Guru Agama, wafat tahun 2004
2. H. A. Hilaluddin Nasution, pegawai Inspektorat Departemen Agama RI Jakarta, wafat tahun 1995
3. Anisah Raihani Nasution, wafat semasa bayi umur dua tahun
4. Fauziyah Hanum Nasution, wafat pada usia baya umur 21 tahun
5. M. Fakhri Al-Hamidi Nasution, seorang pedang di Sibuhuan
6. Faizah Marhamah Nasution, wafat pada usia 15 tahun
7. Zakiyah Khairati Nasution, seorang ibu rumah tangga, isteri dari seorang Hakim Tinggi Agama, tinggal di Jakarta.

II. Pendidikan Beliau.
a. Pendidikan Dalam Negeri.
1. Sekolah Gubernemen (SD) di Sibuhuan tamat tahun 1934
2. Ibtidaiyah di Maktab Syariful Majelis di Sibuhuan tingkat Ibtidaiyah tahun 1931 s/d 1935
3. Ibtidaiyah lanjutan di Madrasah Maslurah Tanjung Pura, Langkat, tamat tahun 1936
4. Tsanawiyah di Madrasah Aziziyah, Tanjung Pura, Langkat, 1937 s/d 1938.
5. Sarjana Muda (BA) di UNUSU Padangsidimpuan tamat tahun 1970
b. Pendidikan Luar Negeri.
1. Belajar di Masjidil Haram, Makkah, dari tahun 1939 s/d 1941.

III. Guru-Guru Beliau.
Sebagai seorang ulama besar dan kharismatik, Syekh Mukhtar Muda memiliki banyak guru baik di dalam maupun luar negeri, sehingga tumbuh kemapanan berfikir dan beraktifitas yang didasari atas alur paham keagamaan yang dia terima dari guru-gurunya. Sejauh pengamatan yang ada semua guru-guru beliau berpahamkan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Hal ini dibuktikan dari kukuhnya beliau dalam memahami, mendalami dan mengamalkan paham keagaman ini. Guru-guru yang membentuk pemikirannya yang berada di kampung halamannya Sibuhuan di antaranya Syekh Muhammad Dahlan Hasibuan, Pendiri Pondok Pesantren Aek Hayuara Sibuhuan, pesantren tertua di daerah Padang Lawas. Lobe Baharudin Lubis, Lobe Harun Hasibuan dan Syahmadan asal Kotapinang.
Guru-gurunya yang berada di Tanjung Pura diantaranya Syekh Abdullah Afifuddin, ulama besar Langkat dan beberapa kali menjabat Rais Syuriyah PW Nahdlatul Ulama Sumatera Utara tahun 50 s/d 60-an. Kemudian, Syekh Abdurrahim Abdullah, Syekh Abdul Hamid Zaid, Tuan Hasyim, H.M. Salim Fakih, Khayat Abdurrahman, M. Said Johor (Guru Oboh), M. Jamil Imam, Ahmad Jauhari dan Ruknuddin.
Sedangkan Guru-Guru beliau yang berada di Makkah al-Mukarramah di antarnya, Sayid Alawi al-Maliki, ulama besar Makkah, Sayid Amin al-Kutby, Syekh Umar Hamdan al-Makhrosy al-Madany, Syekh Sa’id al-Yamany, Syekh Ibrahim Fathony, Syekh Muhammad Araby al-Maghriby, Syekh Hasan al-Masysyath, Syekh Muhammad Ali al-Maliky, Syekh Abdur Kadir al-Mandily, Syekh Abdul Fattah Rawa, Syekh Syarnuby al-Palimbany dan Syekh Umar Arba’in.
Semua guru yang disebutkan di atas adalah guru-guru yang mengajar di Masjidil Haram, beraliran Sunni dan menguasai berbagai macam ilmu-ilmu ke-Islaman.

IV. Murid-Murid Syekh Mukhtar Muda
Sebagai seorang ulama besar yang tinggl di pedesaan dan berkaliber nasional, sudah barang tentu mempunyai murid yang sangat banyak. Namun tidak ada catatan yang dapat dibaca berapa sebetulnya murid yang pernah mendapatkan ilmu dari beliau. Jika dibuat hitungan sederhana sejak beliau mengajar tahun 1942 sampai tidak aktif lagi mengajar di kelas karena usia rentanaya tahun 2008, berarti beliau mengajar 66 tahun. Jika setiap tahun menamatkan 40 orang, maka murid formalnya yang tamat berjumlah sekitar 2600 orang lebih. Kemudian yang tidak tamat sekitar 1500 orang, maka berjumlah 4100 lebih.
Selain murid formalnya di sekolah ada lagi murid pengajiannya rutin setiap hari Senin pagi, kaum bapak dan kaum ibu dari desa-desa di sekitar Sibuhuan sebanyak 100 orang sejak 30 tahun yang lalu, maka diperkirakan berjumlah 6000 orang. Maka dapat dikatakan muridnya formal dan non formalnya tidak kurang dari 10.000 orang lebih.
Dari jumlah tersebut di atas, kualifikasi keilmuan para muridnya beragam sekali. Meskipun pada awalnya murid belajar di pesantrennya dengan pelajaran agama, karena kurikulum sekolah yang dipimpinnya perpaduan mata pelajaran agama dan umum, maka banyak sekali muridnya yang melanjutkan tingkat SLTA-nya ke pendidikan umum, sehingga pada akhirnya banyak muridnya yang berijazah pendidikan umum dan bahkan sarjana umum. Merekalah pada akhirnya yang menduduki jabatan-jabatan penting dipemerintahan selain yang berposisi di Kementerian Agama.
Murid-murid beliau yang berhasil di kalangan akademik kampus mencapai pangkat guru besar ada sejumlah professor dan diantaranya ada yang menjadi Rektor, Pembantu Rektor, Dekan, Pembantu Dekan, dan dosen di berbagai perguruan tinggi. Kemudian, para muridnya banyak menempati posisi eselon di berbagai kantor pemerintah. Di samping itu juga, ada yang menempati posisi sebagai wakil rakyat di DPR dan DPRD di berbagai daerah di Indonesia. Di lapangan bisnis, ada pula yang menjadi pelaku bisnis dan usaha mandiri, sebagai pedagang eksport dan import. Selain itu ada yang jadi tokoh masyarakat, pimpinan pondok pesantren, jadi ulama, muballig, guru, ustadz dan malim kampung. Bahkan, para muridnya hampir ada pada semua lini kehidupan mulai dari lapisan bawah sampai lapisan atas, tersebar di seantero nusantara dan luar negeri.

V. Kiprahnya
Sebagai seorang ulama sudah pasti banyak sekali yang sudah dilakukannya dalam usia yang cukup panjang selama kurun waktu 90 tahun. Meskipun beliau tinggal di desa, sebagai anak desa, namun pengabdiannya tidak terbatas dalam ruang lingkup desa, melainkan dari desa sampai ke tingkat nasional. Keulamaannya pun tergolong sebagai ulama tercatat di tingkat pusat. Dalam kaitan ini dapat dilihat bagaimana pengabdiannya dan kiprah sebagai ulama sepuh berkaliber nasional sebagai berikut ini.
a. Pengabdianya di bidang Pendidikan.
Setelah beliau kembali dari Makkah al-Mukarramah dan menetap di Sibuhuan, beliau terjun mengajar meskipun usianya pada saat itu tergolong muda. Akan tetapi karena ilmunya yang sudah mumpuni, maka mulailah mengajar pertamakalinya di sekolah Madrasah Jam’iyatul Muta’allimin di Sibuhuan dari tahun 1942 s/d 1946. Kemudian mengajar di Madrasah Tsanawiyah NU di Sibuhuan tahun 1947 s/d 1955. Mengajar di PGA NU dari tahun 1954 s/d 1980. Mengjar di KPU ”A” Sibuhuan 1953 s/d 1954. Kepala Sekolah Madrasah Aliyah di Sibuhuan tahun 1955 s/d 1990. Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah Yayasan Pendidikan Islam (YAPI) di Sibuhuan tahun 197 s/d 1990. Pimpinan Pondok Pesantren Aek Hayuara di Sibuhuan tahun 1975 s/d 1989. Pimpinan Pondok Pesantern Al-Mukhlisin di Sibuhuan tahun 1990 s/d 2008. Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukhtariyah di Sibuhuan tahun 1997 s/d wafatnya tahun 2009.
Dari data-data di atas menunjukkan bahwa beliau telah membangun dan memimpin satu madrasah dan tiga pondok pesantern. Madrasah yang disebutkan di awal saat ini tidak lagi terihat keberadaannya karena digantikan oleh madrasah Ibtidaiyah sawasta NU, akan tetapi ketiga pesantren yang disebutkan terakhir yaitu Ponpes Aek Hayuara masih bejalan dengan santri di atas seribuan, Ponpes Al-Mukhlisin sekitar delapan ratusan dan Ponpes Al-Mukhtariyah sekitar tiga ratusan santri.
Selain kiprah dan pengabdian beliau sebagai guru dan pimpinan pesantren, juga beliau dipercayakan sebagai Dosen di Fakultas Syariah Universitas Nahdlatul Ulama (UNUSU) di Padangsidimpuan tahun 1962 s/d 1966. Namun perguruna tinggi tersebut tidak terlihat lagi keberadaannya sekarang, bisa saja kemungkina telah berganti nama atau pindah tangan.
b. Pengabdian di bidang Dakwah.
Sebagai ulama yang banyak mengajar di berbagai sekolah, madrasah, ponpes dan pengajian, beliau juga aktif berdakwah ke desa-desa utamanya pada peringatan Hari Besar Islam. Beliau tangkas berceramah dengan gaya seorang orator kawakan, dengan penampilan pakaian seorang ulama besar, namum model ceramahnya lebih kepada penguatan akhlak dengan serius dan sedikit guyon. Bilau sangat perduli dan memperhatikan benar apa yang terjadi di masyarakat, termasuk degradasi moral yang sedang terjadi di kalangan masyarakat terutama kaula muda. Semua krisis moral yang terjadi dikupas tuntas dan dikiritis habis oleh beliau. Sehingga dengan ketegasannya berkata dan berbuat, maka aparat pemerintah, ormas pemuda dan lapisan masyarakat lainnya bersatu padu memberantas kemaksiatan di daerah Sibuhuan sekitarnya, semua dapat dikomandoi oleh Syekh Mukhtar Muda dalam memberantas penyakit masyarakat tersebut.
Model dakwah yang dilakukan ulama yang satu ini hanya bebentuk dakwah oral, ceramah menggunakan lisan, tidak dijumpai dalam bentuk tulisan semisal tulisan di media massa atau lewat buku-buku karangannya. Tidak dijumpai buku karangnya yang dapat dibaca terkait dengan dakwah beliau. Namun demikian, selain dakwah oral, juga beliau menampilkan dakwah bil hal (ketauladanan). Contoh ketauladanan yang dicontohkan oleh beliau diantaranya ialah model berpakaian haji. Konsistensi berpakaian sebagaimana diuraikan di atas menjadi model berpakaian haji di daerah Sibuhuan. Jika sesorang telah melaksanakan ibadah haji, biasanya memakai sarung, mengenakan baju jas sebelah dalamnya memakai kemeja putih, kemudian memakai serban yang dililitkan di kepala dengan memakai ekor. Model pakaian haji semacam ini telah menjadi tradisi di kalangan masyarakat Sibuhuan dan Padang Lawas pada umumnya.
Dakwah oral sebagaimana disebutkan di atas, beliau sampaikan lewat khuthbah Jum’at di Masjid Raya Sibuhuan, sejak tahun 1970 s/d tahun 1990. Beliau berkhuthbah dengan memakai teks dan membuat tambahan uraiannya sehingga menarik buat jama’ah. Topik khuthbah biasnaya disesuikan dengan perkembangan sistuasi dan kondisi yang sedang dihadapi umat. Sehingga kelihatannya, khuthbah yang disampaikna mengandung jawaban persolan dan solusi masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat dan umat.
Namun dalam rangka kaderisasi da’i dan muballigh, tokoh ini tidak melakukan upaya-upaya pelatihan dan praktek-praktek dakwah, sehingga tidak banyak muridnya yang jadi da’i atau muballigh terlatih. Kalaupun ada hanya karena kesungguhan murid menggali potensi dan bakatnya sendiri.
c. Kiprahnya di bidang Pemerintahan dan Politik.
Kiprak Syekh Mukhtar Muda di bidang pemerintahan, tercatat sebagai Anggota Dewan Negeri Janjilobi, Kecamatan Barumun. Semacam anggota perwakilan masyaakat di kedewanan Janjilobi tahun 1946 s/d 1955. Anggota Pengurus Masyumi Anak Cabang Kecamatan Barumun, tahun 1945 s/d 1951. Dalam partai politik, beliau sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Cabang Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Kabupaten Tapanuli Selatan tahun 1973 s/d 1982.
Dalam catatan sejarah hidupnya, beliau pernah calon legislatif dari Partai Persatuan Pembangunan, namun tidak cukup suara sehingga tidak masuk sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tapanuli Selatan. Kiprah politiknya terlihat jelas ketika akan Pemilu, beliau ambil bagian secara langsung mendukung dan memenangkan partai PPP, meskipun beliau tidak calon jadi. Kecenderungannya memilih PPP karena partai yang satu ini berasaskan Islam dan berlambang Ka’bah.
d. Kiprahnya di bidang Ormas Islam.
Sebagai ulama yang berhaluan Ahlussunnah Wal Jama’ah, beliau memilih organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadahnya berkiprah. Pada awal mula pendirian Nahdlatul Ulama di Sumatera Utara, beliau sudah mulai berperan meskipun pada waktu itu masih usia relatif muda.
Posisi Syekh Mukhtar Muda dalam kepengurusan NU sejak dari berdirinya sampai menjelang wafatnya adalah Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Barumun tahun 1948 s/d 1952. Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kecamatan Barumun tahun 1953 s/d 1977. Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Tapanuli Selatan tahun 1965 s/d 2009. Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Tapanuli Selatan tahun 1978 s/d 1984. Ketua Pengurus Wilayah NU Sumatera Utara tahun 1981 s/d 1985. Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Sumatera Utara tahun 1985 s/d 2008. Rais Syuriyah PW NU Sumatera Utara tahun 1986 s/d 2002. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tahun 1999 s/d 2009.
Sebagai seorang tokoh dan ulama NU, beliau banyak mengikuti berbagai kegiatan NU baik di daerah maupun di tingkat pusat. Diantaranya, mengikuti Muktamar NU di Jakarta tahun 1950. Mengikuti Muktamar NU ke-26 di Semarang sebagai utusan PC NU Tapanuli Selatan tahun 1979. Mengikuti Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konprensi Besar NU sebagai utusan PW NU Sumatera Utara di Yogyakarta tahun 1981. Utusan LP Ma’arif NU Sumatera Utara pada Musyawarah Nasional PP LP Ma’arif Pusat di Jakarta tahun 1983. Utusan PW NU Sumatera Utara menghadiri Muktamar NU ke-27 di Situbondo Jawa Timur tahun 1984. Utusan PW NU Sumatera Utara pada Munas/Konbes NU di Kesugihan Cilacap Jawa Tengan tahun 1987. Utusan PW NU Sumatera Utara mengikuti muktamar NU ke-28 di Yogyakarta tahun 1989. Utusan PW NU Sumatera Utara mengikuti Munas/Konbes NU di Bandar Lampung tahun 1992. Utusan PW NU Sumatera Utara mengikuti muktamar NU ke-29 di Tasikmalaya Jawa Barat tahun 1994. Utusan PW NU Sumatera Utara mengikuti Munas/Konbes NU di Ciawi Jawa Barat tahun 1995. Utusan Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU Sumatera Utara mengikuti Musyawarah Kerja Nasional ke V di Ponpes Hasan Ginggo, Jawa Timur, tahun 1996. Utusa PW NU SumateraUtara mengikuti Munas/Konbes NU di Ponpes Qomarul Huda tahun 1997. Utusan Rabithah Ma’ahid Islamiyah pada Munas RMI di Jaarta 1999. Utusan PW NU Sumatera Utara mengikuti Muktamar NU ke-30 di Liboyo Jawa Timur tahun 1999.
Sepanjang sejarah hidupnya Syekh Mukhtar Muda mengikuti Muktakar NUsebanya enam kali, mengikuti Munas/Konbes Nu sebanyak lima kali, sedangkan mengikuti Munas Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU dan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Pusat sebanyak tiga kali. Selain yang disebutkan di atas, beliau pernah juga diundang oleh presiden Abdurrahman Wahid dalam rangka memberi saran atas kepemimpinan Gusdur pada saat menjabat sebagai Presiden RI.
e. Pengalaman Melaksanakan Ibadah Haji.
Cukup sering Syekh Mukhtar Muda menunaikan ibadah haji, di antaranya ialah pertama kali menunaikan ibadah haji sambil belajar di Makkah sebanyak tiga kali tahun 1939/1941. Naik Haji dengan cara tour umroh dengan keluarga tahun 1978. Menunaikan Ibadah Haji sebagai petugas TPIHI tahun 1989. Menunaikan ibadah haji atas bantuan Raja Inal Siregar tahun 1993. Menunaikan Ibadah Haji sebagai petugas TPIHI tahun 1995.
Dalam catatan menunaikan ibadah haji, beliau dapat kesempatan sebanyak tujuh kali, ditambah pelaksanaan ibadah umrah yang tidak tercatat berapa kali jumlahnya. Hanya dapat diprediksi tentulah berulangkali dilakukan oleh beliau, terutama ketika beliau bermukim di Makkah. Dalam penilaia beliau ketika mengomentri perjalann haji terakhirnya dikatannya bahwa pelaksanaan ibadah haji pasilitasnya dewasa ini semakin hebat dan membuat semuanya mudah, akan tetapi nilai napatilas historis dan kesyahduan ibadahnya terasa semakin kurang. Hal ini dialami beliau dan diperbandingkannya dari awal mula menunaikan ibadah haji yang perama tahun 1939 dengan tahun terakhirnya tahun 1993.

VI. Corak Keilmuan Syekh Mukhtar Muda.
Sebagai seorang ulama besar dan bergelimang dalam bidang keilmuan agama selama lima dekade lebih, banyak ilmu yang dipelajarinya dan banyak pula ilmu yang diajarakannya. Beliau mempelajari berbagai macam ilmu agama diantaranya bahasa arab, tauhid, fiqih, akhlak, tasawuf, sejarah Islam (tarekh), sastra arab (balaghoh, bayan, badi’), manthiq (logika), dan qiraat Alquran. Ilmu ini dipelajarinya selama berada di Makkah al-Mukarramah dari berbagai ulama yang ada di sana. Sehingga dapat dikatakan beliau menguasai banyak ilmu. Kesemua bidang ilmu yang disebutkan di atas, memang dikuasainya dan memiliki kitab-kitab tersebut misalnya, bahasa dipakainya kitab Kawakib al-Durriyah dan Hudhry, fiqih digunakannya kitab Fath al-Qarib dan I’anah al-Thalibin, tauhid digunakannya kitab Kifayah al-Akhyar dan al-Dusuqi, tasawuf, digunakannya kitab Minhaj al-Thalibin dan Durrah al-Nashihin, dan sejarah Islam, digunakannya kitab Nur al-Yaqin.
Dari banyaknya ilmu yang dipelajarinya dan semua ilmu tersebut diajarkannya di kelas atau di halaqah pengajian di masjid dan di rumah beliau, dapat dikatakan tidak terlihat jelas spesialisasi ilmu beliau, namun sebagaimana di katakan oleh Haji Ahmad Fauzan Nasution, SQ, S.H.I , kecenderungan keahlian beliau pada fiqih dan qiraat Alquran. Hal ini terbukti dari banyaknya beliau membicarakan masalah-masalah hukum mengenai persoalan umat dan masyarakat. Dalam mendekati persoalan beliau lebih kepada pendekatan hukum ketimbang pendekatan lain, meskipun pendekatan moral dan akhlak tetap menjadi perhatian beliau. Sebagai contoh, apabila ada orang membawa persoalan menyangkut dengan pertikaian keluarga misalnya, beliau menjelaskan terlebih dahulu apa pendapat fiqihnya baru kemudian masalah akhlak dan moralnya. Namun fiqih yang lebih dikuasainya dan memboboti pemikirannya ialah fiqih Syafi’i, fiqih mazhab lain hanya sebatas perbandingan saja.
Penguasaanya di bidang qiraat juga sangat memadai, khususnya qiraat sab’ah (qiraat tujuh). Namun ilmu yang satu ini tidak dikembangkannya sehingga menjadi milik umat. Hanya saja menjelang usia tuanya sekitar tahun 1978/1979 beliau sempat mengajarkannya, sekaligus beliau ditunjuk salah seorang tenaga LPTQ Sumatera Utara di bidang qiraat. Namun keberadaannya di lembaga tersebut tidak berlangsung lama karena ada sesuatu yang dipandangnya tidak baik. Alasan tarik dirinya beliau karena pada suatu saat ketika MTQ selesai ada kain sarung yang dihadiahkan oleh pemerintah kepada dewan hakim, namun ditukar oleh orang tertentu dengan kualitas yang lebih rendah, maka beliau tidak setuju dengan tindakan tersebut, beliau katakan, kalau dalam kepanitiaan Alquran saja terjadi hal seperti itu, kemana lagi kita akan mencari kebenaran. Sikap tegas beliau membuatnya menarik diri dari lembaga tersebut.

VII. Hasil Karyanya
a. Karya Monumental
Sebagai seorang ulama yang bergerak di bidang pendidikan, Syekh Mukhtar Muda berhasil membangun 3 (tiga) ponpes terbesar di wilayah Padang Lawas yang berlokasi di Sibuhuan. (1). Pesantren Aek Hayuara yang kemudian bernama Ponpes Syekh Muhammad Dahlan, diambil dari nama pendidrinya yaitu Haji Muhammad Dahlan Hasibuan. Ponpes ini berlokasi di Wek IV, Sibuhuan. Meskipun bukan beliau sebagai peletak dasar pesantern ini, namun pengembangannya ditangan beliau, sehingga berkembang pesat dan mengahasilkan lulusan yang banyak sekali. Ponpes ini menghasilkan lulusan Aliyah dan Pendidikan Guru Agama (PGA). Namun setelah tahun 80-an ponpes ini fokus menangani pendidikan Tsanawiyah dan Aliyah saja, sedangkan PGA ditutup sejalan dengan perkembangan kebijakan pemerintah. Beliau mengakhiri masa baktinya di ponpes ini pada akhir tahun 80-an karena adanya dismanajemen dalam kepengurusan Ponpes sehingga beliau memutuskan berhenti dan mebangun pesantren baru yaitu Ponpes Al-Mukhlisin di Wek II, Sibuhuan. (2). Popes Al-Mukhlisin, dibangun beliau pada awal 90-an dengan membentuk sebuah yayasan atas nama masyarakat. Ponpes ini berkembangan dengan mengasuh madrasah Tsanawiyah dan madrasah Aliyah. Namun pada akhir tahun 90-an, atas usul dari keluarga, maka beliau menyerahkan manajemen ponpes ini kepada masyarakat dan kemudian beliau membangun ponpes baru lagi yang diberi nama ponpes Al-Mukhtariyah di daerah Sibuhuan Julu-Sialambue, nama popes ini diambil dari nama beliau dengan membentuk yayasan pengelolanya yang diberi nama Yayasan Syekh Mukhtar Muda. Ponpes ini pun berkembang dan mengasuh pendidikan Tsanawiyah dan Aliyah. Bahkan belakangan mengasuh pendidikan tinggi. Dengan demikian maka dapat dikatakan, beliau adalah ulama yang berhasil membuat daerah Barumun menjadi daerah pendidikan dan kaya denan pesantren dan masyarakatnya yang religius atau yang sering didengar dengan sebutan serambi Makkah. Selain yang disebutkan di atas, beliau juga berhasil merehab masjid Raya Sibuhuan menjadi masjid terbesar dan termegah di kota Sibuhuan sebagaimana dapat disaksikan sekarang. Masjid tersebut dapat menampung jama’ah tidak kurang dari sepuluh ribu jama’ah.
b. Karya Tulisnya.
Meskipun beliau mendalami banyak disiplin ilmu ke-Islaman, banyak mengajar dan banyak murid, namun dalam transpormasi ilmu dilakukannya lewat bahasa lisan atau oral sistem. Tidak ada karya tulis beliau yang tercetak sebagai buku standard atau yang diterbitkan. Memang demikianlah kebanyakan ulama semasanya yang bergerak di bidang pendidikan. Jarang sekali mereka yang menulis dan menghasilkan karya tulis. Syekh Mukhtar Muda, ada menulis sebuah karya tulis dalam bentuk konsep yaitu Sejarah Nahdlatul Ulama Di Sumatera Utara, namun tidak sempat dibukukan. Hanya saja konsep tersebut bisa disempurnakan sehingga menjadi sebuah buku yang layah di baca.
c. Karya Ciptanya.
Dalam bidang karya cipta, Syekh Mukhtar Muda semasa hidupnya berhasil membentuk dan mengembangkan group seni yang bernama Jam’iyatul Qurro, semacam group seni rebana dan memang menggunakan rebana, dan alat nasyid lainnya, dimainkan oleh biduan yang diantaranya adalah qori. Group seni Islami ini melantunkan lagu-lagu yang bernafaskan dan berjiwakan Islam, berbentuk semi orkes dan semi nasyid. Group tersebut diundang orang pada hajatan walimatul urs dan perayan hari-hari besan Islam. Namun setelah berkembangnya seni kyboard, maka group inipun kelihatannya kurang dapat pasaran.
Selain yang disebutkan di atas, Tuan Mukhtar ini berhasil menciptakan sebuah lagu Mars Nahdlatul Ulama Sumatera Utara. Akan tetapi masr ini belum dialansir dengan baik, sehingga belum berkembang dan belum sepenuhnya digunakan dalam acara-acara resmi NU.

VIII. Penghargaan.
Kiprah dan pengabdian ulama sekaliber Syekh Muhktar Muda Nasution terpatri di hati para muridnya termasuk di hati para pejabat pemerintah. Terkait dengan hal tersebut, Gubernur Raja Inal Siregar menganugerahkan kepadanya sebuah penghargaan sebagai ”Pembina Pendidik Terbaik Sumatera Utara” pada tahun 1992.
Sebagai ulama senior atau dalam tradisi Jaw disebut Kiyai Sepuh, beliau sering diundang oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ke Jakarta untuk dimintai pendapatnya diseputar persoalan hukum dalam rangka istinbath hukum (fiqih) dalam berbagai forum ulama tingkat nasional, khususnya dalam forum-forum bahtsul masail yang diselenggarakan oleh jam’iyah Nahdlatul Ulama. Pada penutupan Muktamar NU ke-30 di Ponpes Lirboyo, Keidri, Jawa Timur, oleh Presiden Abdrurrahman Wahid meminta beliau memipin do’a penutupan muktamar, pada hal banyak sekali kiyai yang mumpuni untuk itu, namun karena kharismatiknya, semua kiyai yang hadir memilih beliau memimpin do’a pada acara yang penting dan bersejarah tersebut.

IX. Krakter Keulamaan dan Kekharismaannya.
Krakter keulamaan Syekh Mukhtar Muda tercermin dalam kesederhanaan beliau, hal ini tergambar dari tampilan berpakaian, sikap dan perilaku beliau sehari-hari. Jika diperhatikan dari sudut rumah tempat tinggal yang dihuni sehari-hari, sangatlah sederhananya. Rumah papan panggung, atap seng dan kamar mandi di sebelah luar. Rumah yang kelihatannya kurang layak untuk ditempati seorang ulama besar seperti beliau. Namun dimengerti oleh karena kemungkinan begitulah cara hidup beliau. Sifat ke-wara’-an itulah nampaknya membuat beliau hidup sederhana, padahal bisa diduga belaiau punya kemampuan untuk membangun rumah yang lebih bagus dan lebih layak, tapi bukan pilihan beliau.
Sikaf kewara’an yang melekat di hati beliau tergambar dari kehati-hatian beliau tehadap hal-hal yang samar (syubhat), pada suatu hari ketika isteri beliau akan panen padi di sawah, karena sibuk, ingin mengajak santri turut membantu panen di sawah. Ketika maksud isterinya diketahui oleh beliau, lantas beliau melarang isterinya mengajak santri, lalu berkata “Kalau kamu bertani bisanya karena mengajak santri, maka berhenti sajalah bertani. Santri itu datang kesini untuk belajar bukan untuk bertani”. Sikap seperti ini, menggambarkan kehati-hatian beliau terhadap dosa dan kesalahan dalam berbuat jangan sampai ada kesalahan yang disengaja.
Kharisma beliau tergambar dari sikap hormat masyarakat terhadap diriya, sebagai contoh, jika beliau melintas di suatu tempat, tidak akan melihat kesamping kanan atau kiri, hanya terpokus pandangannya ke depan. Kecuali ada orang yang menyapa beliau. Ibu-ibu yang berada ditempat dimana beliau lewat dalam keadaan pakaiannya tidak menutup aurat, lari terus masuk rumah dan memakai kerudungnya dan pakaian islaminya. Demikian juga para pemuda yang mangkal di persimpangan jalan, dalam bahasa di Sibuhuan “Parsimpang opat”, terdiam dan memberi hormat kepada beliau. Disinilah letak kewibawaan dan kharismatiknya ulama ini.
Banyak hal yang dapat diungkap sebenarnya disekitar sirah perjalanan hidup Syekh Mukhtar Muda, namun karena keterbatasan informasi dan waktu yang tersedia, maka inilah sekelumit yang dapat disuguhkan ke khalayak pembaca. Tulisan ini merupakan tanda terimakasih murid kepada guru atas ilmu dan bimbingannya di masa yang lalu, semoga ada manfaatnya. Amin.

Dihimpun dari berbagai sumber
Abrar, Medan 26 Maret 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *