Ada Najis di Bawah Sajadah, Apakah Shalat Tetap Sah?

Suci dari najis merupakan salah satu syarat sahnya melaksanakan shalat. Maka wajib bagi seseorang sebelum melaksanakan shalat untuk menghilangkan najis yang masih melekat pada tubuh, pakaian dan tempat yang akan dijadikan objek pelaksanaan shalat. Salah satu dalil wajibnya suci dari najis pada saat shalat adalah hadits:

إِذَا أَصَابَ ثَوْبَ إِحْدَاكُنَّ الدَّمُ مِنْ الْحَيْضَةِ فَلْتَقْرُصْهُ ثُمَّ لِتَنْضَحْهُ بِمَاءٍ ثُمَّ لِتُصَلِّي فِيهِ

“Apabila pakaian salah satu dari kalian terkena darah haid, hendaknya ia menggosoknya kemudian membasuhnya dengan air, lalu ia boleh mengenakannya untuk shalat.” (HR. Bukhari Muslim)


Darah haid pada redaksi hadits di atas merupakan salah satu contoh kecil dari najis yang tidak ma’fu (tak ditoleransi), sehingga hadits tersebut juga mencakup terhadap wajibnya suci dari najis-najis yang lain. 

Lalu bagaimana ketika sebuah najis terdapat di bawah sajadah, apakah dianggap melaksanakan shalat di tempat yang terdapat najis, sehingga shalatnya dihukumi tidak sah?

Dalam menjawab pertanyaan tersebut para ulama Syafiiyah berpandangan bahwa najis yang terdapat di bawah sajadah bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan, sehingga shalat yang dilaksanakan di atas sajadah yang di bawahnya terdapat najis tetap dihukumi sah. Ketentuan hukum ini misalnya seperti yang dijelaskan dalam kitab Kifayah al-Akhyar:

فإن صلى على أرض فيها نجاسة فإن عرف موضعها تجنبها وصلى في غيرها وإن فرش عليها شيئا وصلى عليه جاز لأنه غير مباشر للنجاسة ولا حامل لما هو متصل بها

“Jika seseorang melaksanakan shalat di atas dataran yang terdapat najis, jika tempat najis diketahui olehnya maka hindari najis tersebut dan shalat ditempat lain. jika di atas najis tersebut diberi alas, lalu ia shalat di atas alas tersebut maka hal ini diperbolehkan, karena ia tidak bersentuhan dengan najis dan tidak membawa sesuatu yang menempel pada najis” (Syekh Abi Ishaq Asy-Syairazi, Al-Muhadzab, juz 1, hal. 116)

Namun keabsahan shalat pada sajadah yang di bawahnya terdapat najis perlu dibatasi sekiranya najis tidak sampai menembus pada permukaan sajadah, karena najis yang basah atau sajadah yang tipis misalnya. Sedangkan ketika najis menembus pada permukaan sajadah, maka shalat seseorang tetap dihukumi sah selama pakaian atau tubuhnya tidak mengenai pada najis tersebut. 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa najis yang berada di bawah sajadah bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan dan shalat yang dilakukan di atas sajadah tersebut tetap dihukumi sah. Wallahu a’lam.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *