Batik Menurut Gus Mus dan Kiai Said Aqil Siroj

Mustasyar atau penasihat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus pernah mengatakan, dewasa ini, umat Islam Indonesia cenderung mengenakan pakaian gaya Arab; berjubah putih, berserban. Mereka menyangka, yang demikian itu merupakan salah satu ittiba’ (mengikuti jejak) Nabi Muhammad. 


“Mereka kira, pakaian yang mereka pakai itu pakaian Kanjeng Nabi. Padahal, jubah, serban, sekalian jenggotnya, itu bukan pakaian Kanjeng Nabi. Abu Jahal juga begitu, karena itu pakaian nasional Arab.”


Gus Mus menegaskan bahwa Kanjeng Nabi sangat menghormati tradisi tempat tinggalnya sehingga ia memakai pakaian nasional Arab, bukan pakaian bangsa lain. Nabi Muhammad tidak membikin pakaian sendiri untuk menunjukkan bahwa dia Rasulullah atau utusan Allah supaya berbeda dengan manusia lain. 


Gus Mus menegaskan, jadi, perbedaan antara Abu Jahal, Abu Lahab dengan Kanjeng Nabi adalah air mukanya, bukan pakaiannya. Kanjeng Nabi itu wajahnya tersenyum, Abu Jahal wajahnya sangar. Kalau ingin iitiba’ Kanjeng Nabi, pakai serban pakai jubah, wajah harus tersenyum.


Gus Mus lalu mengisahkan, pada zaman Nabi, kalau ada sahabatnya yang sumpek, mempunyai beban, ketemu Kanjeng Nabi, melihat wajahnya, hilang sumpeknya.


Senada dengan Gus Mus, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bersyukur bahwa batik, salah satu khas pakaian Indonesia masih bertahan walaupun memasuki era digital. 


“Alhamdulillah kita dijajah Belanda selama 350 tahun, batik tidak hilang,” kata Kiai Said Aqil Siroj di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis 2 Oktober 2014.


Menurut kiai asal Cirebon tersebut, batik adalah ciri khas Indonesia yang unik dan mengandung filosofi daerah dimana ia dibuat. Seperti batik Yogya, Cirebon, Solo, Pekalongan, dan daerah memiliki filosofinya masing-masing. 


“Orang dulu membuat motifnya itu tidak sembarangan. Apalagi yang batik tulis. Konon katanya ketika akan membatik itu ada yang tirakat dulu sebab ada yang sampai dua tahun. Konon begitu yang batik tulis. Itu untuk keberkahan.”


Ia menyebut juga bahwa orang yang membatik bukan hanya semata-mata mencari materi atau uang, tapi mempertahankan jati diri karena soal uang itu tak setimpal dari daya ciptanya. 


Menjadi warga negara Indonesia, menurut Kiai Said adalah amanat dari Allah Subhanahu wa ta’ala. “Saya jadi orang Indonesia bukan pilihan. Tiba-tiba Tuhan menghendaki saya jadi orang Indonesia, itu kan anugerah, amanah dari Tuhan.”


Batik, kata dia adalah produk budaya manusia Indonesia. Sedangkan budaya adalah pembeda antara manusia dengan binatang. Sebelum lahir, seseorang sudah berada dalam budaya tertentu dalam aturan tata cara pakaian dan tata cara hidup tertentu.


Lebih jauh Kiai Said mengatakan, orang Indonesia yang berpakaian gaya Arab, tidak ada hubungannya dengan kedalaman keberagamaan. Karena di zaman Rasulullah saja yang menggunakan pakaian seperti itu adalah Abu Jahal dan Abu Lahab. Mereka justru penentang Islam paling utama dan terdepan.


Dalam Islam, yang penting dalam berpakaian itu menutup aurat. “Mau sarung, kain, jilbab, kebaya, sari India, celana asal tidak terlalu ketat, yang penting menutut aurat. Adapun jika budaya bertabrakan dengan Islam, maka Islam meluruskan. Yang tidak bertabrakan, kita pertahankan seperti batik.”

 
Badan PBB, UNESCO, mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Peringatan Hari Batik Nasional melalui Penerbitan Kepres No 33, 17 November 2009. Selamat Hari Batik Nasional. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *