Saat Malaikat Jibril ‘Menyalami’ Manusia di Malam ‘Lailatul Qadar’

Jika badan Anda merinding, hati merasa tenang dan damai, serasa ingin menangis, dan keyakinan beriman kepada Allah SWT semakin mantap maka Anda sedang disalami Malaikat Jibril di malam Lailatul Qadar. Inilah salah satu keajaiban yang tak terhingga di malam yang mulia dan agung dengan keutamaan lebih baik dari seribu bulan (83 tahun, 4 bulan).  

Pada malam itu, para malaikat turun ke bumi dipimpin langsung oleh Malaikat Jibril, atas izin Allah SWT untuk melihat siapa saja yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dan menebar keselamatan di bumi sampai terbit fajar.   Inilah penjelasan Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Muhammad Nur Hayid (Gus Hayid) saat khataman bab Lailatul Qadar dalam kitab Durotunnasihin dalam ngaji rutin di Pesantren Skill Jakarta, Kamis (14/5).  

Lebih lanjut Gus Hayid menjelaskan bahwa dalam beberapa kitab tafsir dijelaskan, terdapat tiga level penerimaan Lailatul Qadar. Level tersebut adalah level awam, khusus dan khususul khusus (sangat khusus).     Bagi level awam, Lailatul Qadar adalah sebuah berkah, atau rahmat bagi orang awam. “Mereka hanya berharap pahala dari kemuliaan Lailatu Qadar, yang lebih utama dari seribu bulan,”tutur Dai program Cahaya Hati Indonesia ini.  

Sedangkan level orang khusus, meyakini jika beribadah di malam Lailatul Qadar, Allah SWT yang turun langsung untuk melihat ibadah hamba-Nya dengan miliaran malaikat mengiringi Allah untuk mengaminkan doa seorang hamba di malam itu dan memintakan ampunan kepada Allah bagi siapa pun yang menghidupkan malam Lailatul Qadar.   “Karena pada malam itu, para malaikat membawa perkara-perkara yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, yaitu nasib kita pada tahun ini hingga tahun yang akan datang, serta membawa dan membagikan rahmat dan keselamatan dari Allah SWT untuk orang-orang mukmin,” imbuh pria yang juga pengurus MUI Pusat.  

Pada malam Lailatul Qadar-lah rapot yang telah Allah catat pada malam Nisfu Sya’ban dari catatan besar di zaman azali, akan diperlihatkan kepada para malaikat untuk dilihat. Pada malam Lailatul Qadar catatan itu akan tetap dan tak berubah jika seorang hamba tak berdoa di malam itu dan tidak memanfaatkan malam Lailatul dengan ibadah dan bermunajat kepada Allah.

Catatan ini akan diubah dengan doa-doa dan munajat serta taqarrub seorang hamba pada malam Lailatul Qadar.   “Golongan yang ketiga dari orang memahami malam Lailatul Qodar adalah yaitu orang-orang yang istimewa, memandang semua malam di bulan suci Ramadhan selayaknya malam Lailatul Qadar. Mereka bahkan bisa seolah ‘melihat’ rahmat Allah, melihat turunnya para malaikat. Dan kehadiran Allah SWT di malam itu. Kelas ini adalah kelasnya para Auliya dan Anbiya walmursalin,” ungkapnya.  

Kapan malam Lailatul Qodar itu datang? Banyak riwayat menyebutkan bahwa malam Lailatul Qadar ini disembunyikan oleh Allah agar para manusia bersemangat dan terus berlomba-lomba untuk beribadah dan mendapatkannya sejak malam pertama Ramadhan hingga akhir Ramadhan. Tidak ada yang tau kepastian datangnya Lailatul Qadar kecuali Allah. Namun, bagi orang-orang yang shaleh akan mampu mengidentifikasi dengan tanda-tandanya.   “Dalam sebuah riwayat dikatakan, tanda-tanda akan datangnya malam Lailatul Qadar salah satunya ada di sepuluh hari terakhir Ramadhan dan di malam ganjil, ciri lainnya adalah matahari saat terbit memancarkan  cahaya yang sangat terang dan putih. Karena dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa saat Rasulullah SAW bermimpi tentang Lailatul Qadar bentuknya sebuah sinar cahaya yang sangat terang,” urainya.  

Tanda lainnya lanjutnya, pada siang hari menjelang Lailatul Qadar cuaca cerah namun seperti ada yang menutupi aliran cahaya ke bumi. Meskipun cerah namun tidak menimbulkan gerah dan panas dibarengi dengan angin semilir.    “Angin semilir itu Rahmat Allah yang mengiringi tasbihnya para malaikat. Dan menjelang Maghrib tiba , udara terasa semakin teduh dan sejuk. Dan, di malam hari saat Lailatul Qadar turun,suasana langit cerah dan tidak mendung. Bintang-bintang tampak berkerlip di balik sayap malaikat yang hilir mudik turun ke bumi,” jelasnya.  

Berdasarkan pengalaman spiritualnya, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa jika Ramadlan diawali dengan hari Jumat, maka malam Lailatul Qadar biasanya terjadi pada malam ke-27. Demikian halnya dengan abu Yazid Albustami yang pernah menemukan Lailatul Qadar sebanyak dua kali dalam hidupnya yang kebetulan bertepatan dengan malam 27 Ramadhan.   Malam 27 ini menjadi malam yang banyak disepakati para ulama akan umumnya turun Lailatul Qadar.

Akan tetapi, karena malam keagungan dan kemuliaan itu dirahasiakan, bisa jadi awal Ramadhan, pertengahan atau terserah Allah yang mau menurunkannya.   “Menurut Syekh Abil Hasan Al-Syadzili, apabila Ramadlan diawali dengan hari Jumat, maka malam Lailatul Qadar adalah pada malam Nuzulul Qur’an. Karena dalam Surat Al-Qadar dikatakan bahwa Nuzulul Qur’an terjadi pada Lailatul Qadar,” terangnya. 

Gus Hayid menambahkan, salah satu bacaan dan doa yang anjurkan dibaca dan diperbanyak dilantunkan adalah syahadat lengkap kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW dilanjutkan dengan doa Allahumma innaka afwun karim tuhibbul afwa fa’fuanni. Allahumma inna nas’aluka ridhaka wal jannah wanaudzu bika min sakhatika wannar.  

Sumber: https://nu.or.id/post/read/120058/ketika-malaikat-jibril-menyalami-manusia-di-malam-lailatul-qadar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *