SYEKH BAYAZID AL-BUSTAMI: CINTA, KONTROVERSI, DAN BATAS KESADARAN
Oleh : Dr. Abrar M. Dawud Faza, MA *)
“Tlah kutanamkan cinta dalam jiwaku dan takkan luruh sampai hari akhir kelak. Engkau tlah melukai jiwaku ketika Engkau menghampiriku. Hasratku berkembang, cintaku merekah. Dia tuangkan air untuk kuteguk. Dia telah memacu jiwaku dengan secangkir cinta. Yang telah mengisi samudra persahabatan.” (Bayazid Al-Bustami)
Nama Bayazid al-Bustami menempati posisi unik dalam sejarah tasawuf. Ia bukan hanya seorang sufi awal, tetapi juga figur yang mengguncang batas-batas pemahaman keagamaan pada zamannya. Ucapannya kerap terdengar ganjil, bahkan mengundang kecaman. Namun, di balik kontroversi itu, tersimpan pergulatan spiritual yang mendalam—tentang cinta, ego, dan pencarian Tuhan.
“Aku telah menanamkan cinta dalam jiwaku, dan ia takkan luruh hingga akhir,” demikian salah satu ungkapannya. Kalimat ini tidak sekadar puitis, melainkan menjadi pintu masuk untuk memahami jalan spiritual yang ditempuhnya. Bagi Bayazid, agama bukan sekadar kepatuhan ritual, melainkan perjalanan batin menuju penyatuan rasa dengan Yang Ilahi.
Ia lahir sekitar tahun 805 M di Bastam, Persia (kini Iran), dalam keluarga yang terhormat dan religius. Ayahnya dikenal sebagai tokoh masyarakat, sementara ibunya hidup dalam kesederhanaan dan ketekunan spiritual. Dari ibunya, Bayazid mewarisi laku zuhud—menjauh dari gemerlap dunia demi kedekatan dengan Tuhan.
Salah satu kisah yang kerap dikutip untuk menggambarkan kedalaman spiritualnya terdapat dalam Tadhkirat al-Awliya karya Fariduddin Attar. Diceritakan, suatu malam ibunya meminta air. Bayazid segera mencarinya, bahkan harus keluar rumah dalam gelap dan dingin. Ketika kembali, sang ibu telah tertidur. Ia tidak membangunkannya, melainkan menunggu hingga fajar dengan segelas air di tangan. Saat ibunya terbangun dan meminum air itu, ia mendoakan Bayazid. Bagi sang sufi, doa ibu tersebut menjadi pengalaman spiritual yang tak terlupakan.
Kisah ini tampak sederhana, tetapi menyiratkan sesuatu yang penting: spiritualitas tidak lahir dari pengalaman spektakuler, melainkan dari kesetiaan pada hal-hal kecil yang dijalani dengan ketulusan.
Namun, perjalanan intelektual Bayazid tidak berhenti di Bastam. Ia mengembara ke berbagai wilayah untuk menimba ilmu. Ia berguru kepada banyak ulama, termasuk Abu Ali al-Sindi, yang memperkenalkannya pada konsep fana fi al-tauhid—lenyapnya kesadaran diri dalam keesaan Tuhan.
Dari sinilah arah tasawuf Bayazid semakin jelas. Ia tidak puas dengan praktik keagamaan yang berhenti pada formalitas. Ia melihat banyak orang menjalankan agama hanya sebagai kewajiban lahiriah, tanpa menyentuh dimensi batin. Bagi Bayazid, keberagamaan seperti itu terasa dangkal—bahkan cenderung hipokrit.
Kritik ini tetap relevan hingga hari ini. Dalam banyak kasus, agama masih dipraktikkan sebagai identitas sosial atau rutinitas ritual, bukan sebagai jalan transformasi diri. Bayazid, berabad-abad lalu, sudah mengingatkan bahaya ini.
Karena itu, ia memilih jalan yang lebih radikal: mendisiplinkan diri untuk menundukkan ego. Ia berlatih menahan hasrat, membersihkan hati, dan mengosongkan diri dari kepentingan pribadi. Dalam proses itu, ia bahkan pernah mengalami krisis batin—merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain. Kesadaran akan “ujub” ini mendorongnya mengasingkan diri, mencari teguran ilahi.
Dalam sebuah kisah, saat ia berdiam di Khorasan, seorang pengendara unta tiba-tiba menegurnya: “Jangan hancurkan Bastam dan Bayazid sekaligus.” Kalimat ini menghentaknya. Ia menyadari bahwa kesombongan sekecil apa pun dapat merusak seluruh perjalanan spiritualnya. Sejak itu, ia semakin berhati-hati menjaga hati.
Namun, puncak kontroversi Bayazid justru datang dari ungkapan-ungkapannya yang ekstrem. Ia pernah berkata, “Maha suci aku, betapa agung diriku,” bahkan “Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain aku.” Pernyataan semacam ini tentu memicu reaksi keras dari ulama syariat.
Bagi sebagian kalangan, ucapan itu dianggap menyimpang, bahkan kufur. Namun, dalam perspektif tasawuf, ungkapan tersebut tidak dimaksudkan secara literal. Ia lahir dari kondisi spiritual tertentu, ketika seorang sufi mengalami fana—lenyapnya kesadaran diri sehingga yang tersisa hanyalah kesadaran akan Tuhan.
Konsep ini sering disebut sebagai ittihad, yakni pengalaman seolah-olah bersatu dengan Tuhan. Penting dicatat, dalam pemahaman para sufi, ini bukan berarti manusia benar-benar menjadi Tuhan. Melainkan, kesadaran individu melebur sehingga tidak lagi merasakan keberadaan dirinya sebagai entitas terpisah.
Perdebatan tentang konsep ini terus berlangsung. Sebagian menolaknya sebagai penyimpangan, sementara yang lain melihatnya sebagai ekspresi pengalaman mistik yang sulit dijelaskan dengan bahasa biasa.
Menariknya, Bayazid sendiri tidak pernah mengklaim dirinya sebagai tokoh besar. Dalam sebuah percakapan dengan muridnya, Dhu al-Nun al-Misri, ia berkata bahwa selama puluhan tahun ia justru belum menemukan dirinya. Pernyataan ini menunjukkan paradoks: semakin seseorang mendekat kepada Tuhan, semakin ia merasa kehilangan dirinya.
Kisah lain yang tak kalah menarik tercatat dalam Kashf al-Mahjub karya Ali Hujwiri. Diceritakan bahwa Bayazid pergi berhaji dengan harapan dapat “melihat Tuhan”. Namun, ketika tiba di Ka’bah, ia merasa kecewa karena hanya melihat bangunan fisik. Pengalaman ini mendorongnya menyadari bahwa pencarian Tuhan tidak dapat dibatasi pada tempat atau bentuk tertentu. Sejak saat itu, ia memahami bahwa Tuhan tidak ditemukan di luar, melainkan dalam kedalaman kesadaran.
Meski pemikirannya kontroversial, pengaruh Bayazid tidak bisa diabaikan. Banyak tokoh besar mengakui perannya dalam perkembangan tasawuf. Bahkan Ibn Taymiyyah, yang dikenal kritis terhadap praktik tasawuf tertentu, tetap menghargai kedalaman spiritual Bayazid.
Bayazid wafat sekitar tahun 875 M di Bastam, kota kelahirannya. Makamnya terletak di pusat kota Bistami yang banyak diziarahi oleh para pengunjung. Sebuah kubah didirikan di atas makamnya pada tahun 713 H/1313 M atas perintah Sultan Mongol bernama Muhammad Khudabanda, seorang sultan yang berguru pada Syekh Syaraf al-Din (keturunan Abu Yazid).
Warisannya terus hidup dalam tradisi tasawuf. Ia dikenang sebagai salah satu perintis jalan spiritual yang berani menembus batas—meski harus menghadapi risiko disalahpahami. Pada akhirnya, Bayazid al-Bustami mengajarkan satu hal yang sederhana, tetapi sulit: bahwa perjalanan menuju Tuhan bukan hanya soal apa yang dilakukan, tetapi tentang apa yang ditanggalkan. Ego, ambisi, bahkan identitas diri – semuanya harus dilepas. Dan mungkin, di situlah letak kontroversinya: ia tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menantang manusia untuk melampaui dirinya sendiri.
*) Dosen FUSI UIN-SU Medan